Monday, July 21, 2014

Summary

Selagi kita dicemooh, Tuhan mendengarnya. Pada hakikatnya, kawan, Tuhan tahu, tetapi menunggu.

Sunday, July 6, 2014

40 Detik Masa Kecilku yang Hilang

       Lagu tradisional selamat ulang tahun. Ah, asal kalian tahu saja, ayahku adalah seorang yang, bisa dibilang, anti ulang tahun.

Wednesday, June 11, 2014

Rindu di Los Wisma

                Seingatku malam tidak pernah sedingin ini. Jauh di belahan bumi lain, ada sepasang anak SMA saling menghangatkan diri. Entah itu dengan cara sopan seperti minum coklat hangat dengan sendau gurau saling tukar cerita ataupun dengan cara amoral dengan saling mencumbu lembut.
                Sedangkan aku yang kuanggap kalian tidak butuh tahu siapa apa diriku ini, nelangsa dikunyah sepi. Hidup kedinginan dan kesepian ingin mati tetapi tak kunjung mati. Begitulah kira kira penggambaran bagaimana hidup kaum remaja jomblo. Ada yang hanya saat malam minggu atau akutnya ada yang setiap malam seperti ini.
                Aku di sini, di dalam kamar los yang dingin walau sudah kuselimuti tebal tebal setebal kerak bumi ini, menyadari birunya rindu. Parahnya status pacaran saja belum kami emban. Sepertinya jika kutulis kami itu terlalu memaksakan egoku. Nyatanya dia tahu perasaanku saja belum. Jangankan tahu perasaan, mengobrol tatap muka saja aku sudah mandi keringat dingin. Lirik mata kita sudah saling bicara. Menyakitkan sekali kebohongan pernyataan kalimat sebelum ini.  
                Di dunia modern ini, aku masih saja menanyai bulan “Apakah kau di sana yang juga melihat bulan ini merindukanku?”
                Di dunia modern ini, di mana sarana berpesan ribut saling berebut pasar pengguna, masih saja ponselku diam tanpa pemberitahuan.
                Dengan biola dan angin malam, aku melagu tembang kangen. Merindukan dirimu yang kini sudah bersama dirinya yang gondrong dan serba hitam dan cadas, dan tidak pernah menganggap diriku yang setiap malam nelangsa bersama biola dan menulis prosa ini ada. Iya, dirimu, cintaku yang sudah kulupakan namanya.

Indra.

Friday, June 6, 2014

Bukan yang Dulu Lagi

Melihatmu sekarang berboncengan denganya membuat aku yang keibuan ini mencoba sedikit nakal walau aku tahu aku menjadi munafik dan aku ingat betul ketika kau curhat heart to heart denganku, saat itu kau mengatakan kau sangat membenci orang munafik. Maka, bencilah aku sayang, benci saja aku. Jika kau tak bisa mencintaiku karena kau sudah terlanjur memilikinya tanpa sempat aku menyatakan cinta, maka benci saja aku asal jangan kau acuhkan aku.

Saturday, May 31, 2014

Extra : Puisi Epilog CAPN

Ketika kau menyatukan diri dengan Alam
Aku akan khusyuk menunggumu
Ketika kau tukmaninah sujud di bentang jagat raya
Aku belajar memahamimu

Oh bunga mawarku
Merahmu tak membiru
Yang biru hanyalah haruku
Racunmu semakin membunuh

Jikalau nanti tuhan berkehendak lain
Aku mafhum mati akan kehendaknya
Aku kini mencari pemilik rusuk ini
Tuhan maha tahu

Wednesday, May 28, 2014

Cintai Aku di Purgatorni Nanti - Epilogue -



                Jumat tidak pernah sepanas ini sebelumnya. Entah itu perkara hari itu ulangan bahasa Indonesia dan Geografi atau memang matahari sedang begitu membaranya menyimak Bunga sekarang mulai menjalin cinta. Bukan dengan Aldho.

Tuesday, May 13, 2014

Murid Sosial dan Sains 3 Harakat



Belum berjarak 24 jam sejak aku dicemooh sebaai remeh temeh siswa IPS. Tapi kawan, Tuhan itu Maha asyik. Tuhan telah menata konstelasi rencanya dalam blue print yang sakralnya tak tanggung tanggung. Semua organ dalam tubuhku meledak ketika kudapati diriku mewakili kotaku untuk maju ke tingkat provinsi, dalam ajang olimpiade ssssssssaainnsss. Bukan, bukan sains, tapi sssssssssainnsss. S dibaca 3 harakat.