Seorang
yang, setidaknya menurutnya, paling menderita batiniah sebumi pertiwi sedang
gundah gulana perkara pacarnya yang kesekian itu tidak sengaja mengantar
seorang wanita, yang katanya sepupunya, ke mini market. Usut punya usut, entah
relevan atau tidak, seorang yang ini sedang mengalami PMS. Cemberut seperti
pantat bayi.
Thursday, July 2, 2015
Wednesday, June 17, 2015
Edisi Ramadhan - Demi Waktu
Tempo dulu, Indra kecil sedang semangat semangatnya
menyusuri jalanan kampong dengan sepeda wimcycle keluaran tahun 2000. Walau
gempal, ia lincah menghindari tai tai ayam yang bertebaran. Kepik kepik merah
kuning masih betah bertebangan di sepoi sepoi udara sore ba’da Ashar. Bapak
bapak yang tidak betah di rumah bertemu istri, masih dengan seragam seragam
kantor masing masing, kongka kongko di warung kopi, main catur dan ngobrol
cerdas tentang politik. Kucing kucing yang krisis identitas sedang kawin dengan
gaya anjing di belakang semak semak. Anak anak kecil penuh bedak berbondong bondong
ke Masjid kampong. Indra kecil sungguh bersemangat, walau ia tidak diantar oleh
orang tua seperti anak anak lainya, ia semangat sekali untuk masuk les mengaji
pertama kali, walau terbilang umurnya agak telat belajar mengaji.
Ustadz Amin, guru mengaji yang air mukanya seadem Kak
Seto TVRI, menanyai Indra kecil, “Dek Indra sudah juz berapa?”
Indra tanpa rasa malu menjawab, “Belum bisa mengaji, pak!”
Ustadz Amin termenung. Tentu, walau tempat les mengaji
itu dipenuhi bocah bocah cengengesan tapi kebanyakan mereka yang sudah kelas 2
SD paling tidak sudah baca Al Quran lancar.
Ustadz Amin membimbing privat Indra dengan pelan pelan,
bersama gerombolan Iqra’ 1 – anak anak TK yang masih menangis jika disalahkan perkara
membedakan huruf Ta’, Sa’ dan Na. Ustadz Amin kaget dengan kecepatan Indra
kecil dalam belajar mengenal huruf hijaiyah. Baru setengah jam, Indra sudah
sampai huruf Ghain. Lancar. Mulus seperti pantat bayi.
Namun, di tengah kekaguman Ustadz Amin, ia jadi lebih
kaget karena Indra bertanya,
“Ustadz, saya boleh tanya?”
“Ada apa, anakku?”
“Tapi janji, saya jangan ditampar.”
Ustadz terkekeh, “Tak mungkinlah. Adek pikir ini tempat
apa?”
“Ustadz, kenapa Al Quran susah susah ditulis dengan
bahasa Arab? Maksudku, aku belajar kitab lain dan tidak usah repot repot
belajar cara membaca huruf hijaiyah karena sudah ada bahasa Indonesianya.”
Indra menutup buku Iqra’, “Apakah belajar di TPA benar benar mengajarkan anak
anak Al Quran, ustadz? Mana bisa aku belajar artinya. Mereka yang berumur SMP
apakah juga hanya membaca huruf arabnya?”
Ustadz tersenyum. Jarang sekali ia bertemu anak didik
yang banyak tanya. Anak anak didiknya selama ini hanya sekedar bisa mengaji,
manut tanpa banyak interupsi. Anak didiknya yang baru ini sudah berani mendebat
topik yang cukup berat. Ia mengelus kepala cepak Indra dengan rasa iba. “Dek
Indra jago bahasa Inggris?”
“Lumayan, ustadz.”
“Bahasa Indonesianya house itu apa?”
“Rumah, pak ustadz.”
Ustadz Amin tersenyum melihat kemampuan linguistik anak
kelas 4 SD ini, “Kalau bahasa Indonesianya home itu apa?”
Indra berpikir sejenak, “Juga rumah, pak ustadz.”
“Katanya rumah tadi house….”
Indra memutar otak. Mata setengah ngantuknya semakin
sipit.
Ustadz terkekeh, “Begitulah bahasa, dek Indra. Home
memang bisa diartikan rumah, tapi jika dek Indra belajar bahasa Inggris lebih
dalam, home itu artinya secara kasar tempat tinggal. Namun, di sekolah dek
Indra diajarkan home itu rumah.”
Indra memicingkan mata meremnya, “Lalu, apa hubunganya
dengan pertanyaanku tadi, pak?”
“Itu tadi bahasa Inggris dasar. Bagaimana jika kitab suci
diperlakukan seperti itu? Ketahuilah nak Indra, bahasa ini sejatinya tidak bisa
diartikan secara penuh, hanya diartikan dengan makna yang paling dekat.”
“Jadi, kita harus belajar bahasa Arab agar bisa
mempelajari Al Quran dengan bahasa aslinya? Untuk menjaga keaslian bahasanya?”
Ustadz tersenyum lebar, “Cerdas sekali!”
Indra lalu menjawil Ustadz Amin, “Pak Ustadz, sehabis TPA
saya boleh diajari cara shalat?”
********
Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian……
Sore itu, Indra tidak langsung pulang. Memang ia sudah
ijin ingin ikut shalat Maghrib berjamaah. Indra kecil diajari oleh Ustadz Amin
dasar dasar shalat. Walau belum begitu lancar dan cukup memalukan untuk anak
SD, ia sudah diberi instruksi yang cukup jelas. Ikuti saja gerakan yang lain. Baca
bacaan yang tadi sudah diajarkan sesuai urutan shalat. Di rakaat ke2 jangan
lupa duduk tahiyat awal. Dan jangan lupa, ketika imam shalat selesai membaca Al
Fatihah, jawablah dengan amin.
“Amin? Nama bapak?”
Ustadz sabar menjawab, “Amin itu bisa diartikan ‘semoga
dikabulkan’.”
Lalu adzan Maghrib berkumandang. Muadzin setengah baya
menyeru dengan lantang, tegas namun merdu. Anak anak yang tadi masih jegegesan
gojek langsung masuk rumah masing masing, seketika sepi. Kucing yang tadi kawin
tidak tahu tempat hilang suaranya. Kepik kepik langsung hinggap di semak semak,
khusyuk menyimak adzan. Bapak bapak yang tidak bahagia tadi langsung menyeruput
habis kopi mereka dan bergegas menuju masjid kampung. Indra terkesima akan
dahsyatnya adzan Maghrib. Dalam hati, Indra merasa iri terhadap mereka yang
sejak kecil sudah diajarkan agama Islam.
Benar, kawan. Sesungguhnya, manusia itu benar benar dalam
kerugian. Dan Indra mafhum betapa rugi dirinya selama ini.
Imamnya adalah Bapak Azhari, ia lebih tua dari Pak Amin.
Mukanya jauh dari Kak Seto TVRI. Ia lebih seperti Pak Raden namun versi setelah
kalah judi bola. Walau sama sama dari satu stasiun televisi, namun jenggot
Pak Azhari sungguh memancarkan wibawa yang tidak main main gagahnya yang tidak
dimiliki Kak Seto.
Pak Azhari merapikan saf shalat. Sontak para jamaah yang
sudah menggerombol di dalam masjid menjawab “Samina wa athagna”. Indra yang
tidak tahu apa apa, ikut ikut saja.
Ketika Pak Azhari bertabiraktul ikhram, bergetar seluruh
raga Indra. Allahu akbar.
Pak Azhari masuk Al Fatihah. Ketika basmallah, lantunan
tegas nan merdunya mulai memenuhi ruang shalat. Indra susah payah menjaga
kekhusyukan seperti yang sudah diwelingkan Pak Amir tadi. Indra mengigit bibir
bawahnya.
…..Wallad
Dhaaaliin.
Indra mencoba menggerakan bibirnya yang gegabah, namun
Indra sudah terlanjur lunglai. Gema “Aaaaaamiiiiiinnnn” oleh para jamaah
membuat jiwa Indra yang kotor bergetar. Indra tercengang. Sekuat tenaga yang
masih ada Indra menjaga agar ia tidak rubuh, ia ingin menyelesaikan shalatnya.
Terdengar samar sedu anak SD yang baru saja mengenal agama.
Ketika salam diucapkan, Indra hanya bisa termenung. Indra
langsung sujud lagi setelah bersalaman dengan Pak Amin di sebelahnya. Indra
menutupi air matanya yang jatuh tidak tahu izin. Lalu, Indra kecil langsung
pulang, mengambil sepeda berkaratnya, namun tidak dinaiki sepeda itu – ia tidak
kuat. Pak Amin dari belakang melihatnya, tersenyum dan mendoakan semoga anak kecil yang malang itu cepat disentuh hatinya.
Kepik kepik seakan menjadi jangkrik. Suara meong kucing
kawin berubah menjadi orek orek kodok. Ada satu dua kuntilanak berkelabat. Ada
pula jenglot berkeliaran. Indra menyusuri malam sendirian, anak kecil gempal
dengan mata setengah ngantuk itu menuntun sepeda reyotnya.
Walau raganya masih getir, dalam hati, Indra bersaksi tegas,
Aku bersaksi, tiada
tuhan selain Allah
Dan aku bersaksi, Nabi Muhammad
adalah utusan Allah.
…..kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
”Ampun, sudah ada iklan sirup
Tarzan?” Indra yang sudah beranjak remaja terbelalak melihat layar TV. Indra
menyimpul senyum, selamat datang Bulan
Ramadhan.
Indra.
Thursday, June 4, 2015
Puisi Akhir Sekolah
Hilangkah?
Cinta
yang kutulis dalam buku
Cinta
yang kutitipkan pada kembang sepatu
Cinta
yang kubisikan kepada rumput yang malu
Cinta
yang melirik di setiap nyanyiku
Cinta
yang menyelip di setiap aku melagu
Cinta
yang gugur saat daun ikut jatuh
Cinta
yang benar benar membuatku kelabu
Cinta
yang selalu aku puisikan ketika aku merindu
Cinta
yang sengaja diam kusimpan dalam kalbu
Adakah
yang sudah kau temu?
Indra
Saturday, May 30, 2015
Aku yang Sombong
Rasanya baru kemarin aku dimarahi habis habisan oleh
Ibuku karena aku, anak yang lulusan kelas akselerasi, entah bagaimana asal
usulnya, mendapat juara 25 dari 30 anak di kelas di kelas SMAnya ini. Mungkin
karena tidak semua anak akselerasi pintar. Mungkin karena aku sudah mulai bosan
dengan belajar. Atau mungkin juga karena mimpi basah.
Rasanya baru tadi pagi, premis aku juara 25 ujug ujug
menegang seperti pengantin baru menjadi juara 2 kelas. Mungkin karena aku masuk
kelas IPS, kelas yang terduga sebagian minoritas masyarakat hinakan jika anaknya
masuk ke kelas tersebut kelak. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan mimpi
basah. Mungkin karena anu.
Sunday, March 15, 2015
Biarkan Aku Memelukmu Sekali Lagi
Wanita
yang lebih cantikku hanya Ibukku. Tentu. Aku sering dipanggil sebagai bedangik
wanita karena tidak jarang aku difitnah tidak sengaja memberi harapan palsu
kepada manusa manusia pathetic yang mengira sopan santun sebagai sebuah harapan
dengan wajahku yang mungkin lebih cantik dari pacar pacar kalian. Aku cantik
dan tidak perlu pengakuan lagi.
Kukira
sebenarnya cinta tidak sesakit itu. Sampai aku mengenalnya. Nya yang entah
keluar dari perut bumi mana. Nya yang tiba tiba datang membawaku liburan sesaat
ke dufan dalam angan, mengajakku berputar manis naik Karousel, mengayunkan
perasaanku seperti Kora Kora lalu meninggalkanku ketika aku di puncak Tornado. Hilang seperti dilontarkan Rollercoaster. Pergi jauh tinggi meninggalkanku yang masih menangis sendirian di puncak wahana.
Sungguh
lucu Tuhan bercanda. Aku sedang bosan bosanya tiduran, kelon dengan gitar. Lalu
sepermili detik sebelum aku lelap tidur siang, ada SMS tanpa nama kontak tidak
sopan bertanya, “Masih kenal aku, nggak?” Prologue pun terjadi.
Saturday, February 7, 2015
Sepatu Valentine
Aku bukan umat yang merayakan Malam Minggu, jadi malam ini aku putuskan untuk mbelayang
ke minimarket dekat Desa Kecil Sekali. Dengan kantong beraroma bawang,
kuberanikan diri memasuki imperium koleksi barang dagang dengan pendingin
ruangan yang maha agung.
Ranjang belanja sudah berisi kudapan agar aku makin gendut. Karena aku manusia
yang ingin banyak tahu, aku melanglang minimarket ke daerah makanan kaum kaum
stakhanovis, ke rak bagian coklat. Sejenak aku merinding setelah mendapati di
rak coklat ada bayi tanpa busana sesuka udelnya gantung diri. Oh ternyata cupid, oh
ternyata sudah masuk bulan Februari, oh ternyata Valentine lagi. Bangsat.
Aku masih beku dalam kejut. Sesaat kemudian aku disadarkan oleh pukulan keras
di pundak lalu aku berontak dan teriak sejadinya, “BUKAN AKU PEMBUNUH BAYINYA.”
Gatot terbahak, pembawaanya yang tinggi dan tampan membuat mbak mbak staff
minimarket terpesona lalu lunglai dan lemas ketika gigi putih gatot bersinar
bak bulan purnama Apogee di awal bulan Maret.
Friday, January 23, 2015
Bob, si Pengedar Ganja
Tengah
malam ketika pelacur pelacur dikejar yang berwenang mengejar, ketika jangkrik
jangkrik, denotasi dan konotasi, berkeliaran di lingkungan pengap Desa Kecil
Sekali, kulihat manusia hitam, bukan kulitnya tapi pakaianya, dikejar manusia
manusia muntab berobor obor tanganya dan berapi api matanya. Aku tak peduli,
aku tetap saja menyeruput kopi di bawah tenda wedangan. Rehab dari hidup.
Ada
manusia pembawa karung yang mungkin berisi sampah, lari terbirit birit mencari
tempat sembunyi. Apa daya Desa Kecil Sekali adalah desa yang tidak akan bisa dipetakan
tata letaknya bahkan oleh Colombus sekalipun. Akhir cerita, lelaki pembawa
karung tadi, sebut saja Bob, tertangkap dengan basah kuyup karena kubangan air
di jalanan Desa Kecil Sekali tidak jauh berbeda dengan palung marina. Namun, puji
tuhan, dalam hati Bob, karung tadi selamat dari percikan air.
Naas,
warga sudah datang dengan nafsu amarah mereka. Khas manusia manusia Indonesia
yang suka menjadi vigilante, atau
bahasa awamnya, hakim swadana. Barisan depan tampak seperti orc orc gahar dalam
buku J.R.R Tolkien, dengan garpu jerami khas tahun 1700an. Di belakangnya ada
manusia slinger dari film medieval tahun 1800an, membawa batu batu siap lempar,
membuat kepala nyeri hanya dengan melihatnya. Di barisan paling belakang ada
gerombolan manusia bak penyihir dan api yang menyala nyala di tanganya, hanya
saja ini obor.
Bob
sudah keluar dari palung desa, namun apadaya, badan sudah menggigil dingin dan otot
tak kuasa menggerakan badan. Lalu salah satu manusia raksasa tadi menginjak
perut Bob.
“Bangsat!
Apa apaan kau? Ganja? Wajahmu seperti wajah bajingan tak pernah ibadah!”
“Asu
buntung! Mau kau rusak lagi moral bangsa yang sudah rusak ini?”
“Kontol
kobong! Bajingan! Anjeng! Soal drill sosiologi! Tai anjing!”
Dan
makian terus berlanjut hingga wajah Bob tidak bisa dianggap wajah manusia.
Mengerikan bukan main.
Ketika
perkusi badan si pengedar ganja dan kaki warga sedang bergemuruh liar, salah
satu obor warga membakar karung kering tadi di luar sepengetahuan mereka. Tumpukan
cannabis membara merah. Asap putih meledak dalam sunyi. Menyeruak jalanan desa
yang becek. Orang orang terkencing kencing meninggalkan mayat pengedar ganja
tadi sendirian di tengah kobaran daun ganja satu karung. Maka, malam di Desa Kecil
Sekali itu, berlalu sangat happy. Termasuk aku yang teler dalam tenda wedangan.
Menghirup berlinting linting kebahagiaan gratis.
Subscribe to:
Posts (Atom)