Saturday, September 17, 2016

Lempuyangan, I'm In Love



Biarkan aku kurus
Biarkan aku dibuat lapar rindu
Agar kelak bisa aku sembunyi di balik ilalang
Agar kelak bisa aku melihatmu mandi di ladang
            Kita sudah dewasa – sebagaimana maha di depan siswa. Kita, setidaknya aku sendiri, mengira kita dituntut, tertuntut untuk menjadi dewasa oleh waktu yang selalu jual mahal. Bangsat sekali perilaku si nona. Seenaknya membuat saya tiba tiba tua dan lulus SMA. Ulah siapa lagi yang membuat saya bahagia diterima di Universitas Gadjah Mada? Saya yakin siapapun yang melakukan itu adalah orang yang sama membuat kekasih saya menjadi jauh di sana. Jauh dari saya. Kawan, simak saja saya bercerita. Dari ruang tunggu stasiun Lempuyangan, 19.55.

Wednesday, June 22, 2016

Cerita Pojok Kelas Goes To Jogja






Angin malam pada dini hari
Angin malam menari indah sekali
Angin malam sedang cantik tak terperi
Ketahuilan, kawan, kami jauh dari suci

Pernah pada suatu dini hari yg tidak hore di bulan Ramadhan saya menyusuri Jalan Gejayan dan Jalan Sudirman. Di pagi yang terlalu pagi itu saya baru menyadari bahwa di sepanjang jalan, di emperan emperan toko yg tidak berlebihan jika saya katakan berbau sengak, masih banyak para tunawisma tidur dengan selimut yg tidak kalah sengak baunya. Lalu, kenapa jalanan benar benar sepi? Kawan, saya bukanlah seorang aktivis rumah ibadah. Namun, saya bertanya dalam hati,

"kenapa tidak ada para hamba Allah yg biasanya pagi pagi bagi bagi sahur di sepanjang jalan jalan ini? Sedangkan saya melihat berbagai bentuk publikasi sahur on the road di media sosial sampai sampai bosan jari ini menscroll, mencari konten yg bukan tentang sahur on the - OH! Sahur sahur on the road sering dilaksanakan di sepanjang daerah daerah yang ikonik seperti Jalan Malioboro, Daerah Tugu Jogja dsb dsb dsb (dan saya bingung)."

Lalu, apakah mereka tidak tahu, tunawisma tidak hidup di tempat ikonik Jogja saja? Dengan berbagai ijin Tuhan, saya dipertemukan dengan rekan rekan mahasiswa yang sama pedulinya dengan isu ini - dan jika tidak dimulai dari diri sendiri, bagaimana orang lain peduli (atau setidaknya tahu) tentang tunawisma yang terlantar jauh dari lokasi favorit para pembagi sahur?

*************

Dengan berkah Tuhan, kelompok ini, pada tanggal 22 Juni 2016 sekitar pukul setengah 3 pagi, diperbolehkan berbagi sahur di jalan jalan tadi.

Kami bagaikan kelompok yang memiliki jalan jalan tadi saking sepinya. Para tukang sampah, tukang becak, gelandangan, mengucap terima kasih yang tiada terperi tulus - saking tulusnya, saya tidak sanggup melepas helm agar tidak terlihat saya sebagai satu2nya anggota laki laki di kelompok ini harus meneteskan air mata.

Di emperan depan Lippo Mall, kelompok saya membagikan sahur kepada gelandangan yang ternyata bersama anak perempuan. Ia menyeletuk, "Wehhh, mas mbak e apikan bgt ya, buk" (Wah, kakak kakaknya baik sekali ya, ibu.) lalu dengan mata bulatnya yg kabur jernihnya karena remang lampu jalanan pagi hari, ia melambaikan tanganya ke gerombolan kami serambi kami melanjutkan perjalanan.

REMUK, KAWAN, REMUK!!! Di depan Lippo Mall yang bukan main megahnya masih ada rakyat tunawisma, ya ampun, anak kecil perempuan yg tidur berbantal karung yg dari baunya seperti berisi sampah.

Di mana cinta? Sudahkah ia mati? Meninggalkan umat manusia untuk dicaci?

Kawan, sahabat, kekasih, kalian semua, semoga dengan social project dari kelompok kami ini kalian semua sadar bahwa masih ada tunawisma di daerah yang kurang ikonik di Jogja ini.


"Kita adalah sisa sisa keikhlasan."
#PALAPAPeduli

Sunday, April 17, 2016

Cerita Pojok Bonbin

Berikut adalah bentuk ekspresi murni. Jika Tuhan menghendaki adanya perbedaan - yang jelas selalu ada -, balaslah dengan puisi. Dunia lebih indah ketika para tentara adalah pujangga.

********
foto dari jogjastudent.com
Siang tidak hore menanti tunggu
Racun jingga terik di atas gulu
Bercanda di hadapan nasi pecel enam ribu
Melupakan tiada lama tempat ini akan digusur waktu

Aku adalah bagian dari rakyat,
Yang tagihan UKTnya tidak tanggung seenak jidat,
Menanggung silang sesama mlarat,
Yang ditanggung ternyata bisa dolan malam dilanjut maksiat

Ke mana aku sambat?
Kepada kepulan rokok dan sedikit penyakit

Kemana lagi ketika benar Bonbin diratakan rektorat?
Kepada Tuhan karena aku harus berpuasa sedikit

Baru kemarin sore aku makan di sini
Batuk batuk karena asap asap penyakit

Ketika sudah rimbun tumbuh cinta
Indonesia sudah tidak punya rakyat jelata

Nasib

oleh: Indra

Friday, April 8, 2016

Marni


            Warung mamah selalu penuh kepul asap rokok. Walau pengap dan sengak karena tidak jarang para begajul yang nongkrong di situ pipis sembarangan di samping warung, mamah pantang menyerah buka warung. Walau kadang tetek mamah dicolek oleh para bangsat, mamah tetap dengan senyum terpaksa mempiutangkan bayaran nasi telur dan rokok barang satu dua linting per ekor anjing. Mamah adalah pemilik warung super strong.
            Papah adalah orang yang hanya bisa kulihat dari foto. Sejak aku belum lahir, kata tetangga ia pergi merantau ke Sumatra. Ia berpesan bahwa di Jawa terlalu galak untuk kaum proletar macam kami. Kabar burungnya, Papah sudah kawin lagi di sana.
            Saya sendiri adalah anak yang lumayan pintar kata tetangga. Untuk seorang anak yang harus mengabdi diri pada warung untuk bisa makan nasi sayur tiap hari dan sesekali suwiran ayam seminggu sekali, ranking 15 dari 29 anak adalah hasil yang memuaskan. Mamah selalu membanggakan aku bisa mengalahkan anak Pak RT yang berangkat sekolah – walau masih SMP – naik motor ninja warna biru, dan setiap pulang sekolah harus ikut bimbel dan setiap Sabtu sore les piano.

Friday, April 1, 2016

Menanti Pagi

Mampirlah lagi
Teh jahe di meja masih hangat menanti
Atau kedai lain punya kopi lebih wangi?
Jika malam diusir pagi, jangan lupa mampir ke sini
Pintu aku buka tiada peduli siang atau malam hari
Ada gelas yang belum sempat terisi
Wadah dingin yang kusebut hati
Hati ini

Belum lelah menanti

Indra

Thursday, February 25, 2016

Diary Tentang Rumah yang Jauh

Untuk seseorang yang, kelak, akan menjadi mahasiswa Akuntansi UGM 2016.
***

            Dengan kondisi finansial yang begitu mengenaskan, Papa hanya bisa sekedarnya memanjakan 4 anak perempuanya. Rumah yang berisi 6 anggota keluarga dan berbagai hewan kotor macam tikus dan kecoa ini tidak berlebihan jika dikatakan kumuh. Hanya ada satu motor di rumah – Astrea dari jaman Fir’aun belum sunat. Motor yang sudah kelihatan rombeng rombeng bodinya ini dipakai Papa untuk kulakan di pasar. Seringkali motor ini dihujat karena bronjong hijau yang menempel di bagian belakang motor seringkali membuat beset mobil milik orang penting kantor pemerintah kota. Untuk komuting, ada dua sepeda yang tidak kalah rongsoknya. Sepeda yang tidak berbunyi decit decit ketika dikayuh dipakai oleh kakak nomor dua. Aku pakai yang suara besi karatanya menganggu pengguna jalan. Sering kali aku harus mengantar adikku yang paling kecil ke TK dengan sepeda itu. Mama selalu setia menunggu Papa dan kulakanya dari pasar di warung yang terbuat dari kanopi seng dan meja pipa bekas jadi tidak perlu kendaraan.

Wednesday, November 4, 2015

Terlalu Jatuh Cinta Untuk Berpikir Jernih

            “Walau hanya fiksi dan omong kosong, Bandung Bondowoso tidak berpikir dua kali untuk syirik, meminta bantuan laskar jin, untuk membangun megahnya hampir seribu candi di Prambanan sana untuk kekasih yang belum tentu ia berhasil kawini.” Elakku.
            Pakde menepuk jidatnya sampai merah. “Kau tidak akan menyetubuhi saxophone-mu, le. Bagaimana bisa otak yang sebegitu sintingnya yang ada di dalam batok kepalamu itu bisa mengantarkanmu masuk Universitas Gadjah Mada.”