Tuesday, September 30, 2014

Minggu Malas



                DHUAR!
                Setelah aku merinding terdengar DHUAR sekali lagi. Oh ternyata James. Kawan, aku tahu bahwa beberapa dari kalian kaget kenapa sekarang Indra menggunakan nama James di karyanya seperti khalayak penulis amatir pada umumnya – padahal sudah di berapa cerpen aku mengatakan aku berbeda dari antara yang berbeda sampai beda terbeda bedakan. James menyumet mercon, mebangunkanku dari Minggu yang malas. Begitu. 

                Tidak tidak, ketampanan James tidak melebihi aku dalam arti total. Jika kalian menilai sesuatu dari wajah, maka pengantin wanita pun rela cerai setelah semalam dipecah hore. James bukan manusia. BUKAN! BUKAN MAHLUK HALUS. Entah mahluk halus atau bukan, aku mencintai segalanya. Kawan, bahkan bajinganwati yang sudah memecah belah hati ini masih aku cintai, kenapa tidak mencintai sesama mahluk tuhan lain?
                James adalah kucing yang bisa berbicara. Jangan banyak tanya. Kucing yang bisa berbicara bukan hanya Doraemon. Kucing kampung ini memiliki kepala manusia. Jangan tanya, sudah aku peringatkan dua kali. Tampan setampan tampanya tampan. Ganteng seganteng gantengnya ganteng. Namun bukan manusia utuh. Badanya berbulu penuh penyakit paru paru, hanya saja wajahnya ganteng. Wanita mungkin lebih suka kucing ini daripada lelaki kebanyakan. Tidaklah penting bagaimana aku bisa bersahabat dengan mahluk ini.
                “INI SUDAH AKHIR SEPTEMBER KAMU BELUM MOSTING CERPEN SEBULAN INI!” James murka.
                Aku bermanuver, ngolet, masih dalam posisi rebahan di kasur. “Aduh, ini masih UTS.”
                “KAPAN KAMU MAU NERBITIN NOVEL KALAU UTS AJA MENGHAMBAT SEMANGATMU, CUK!”
                Aku mencari benda yang bisa menyabet kucing banyak bicara ini dari dalam kamar. Nihil. Semakin sumuk rasanya Minggu ini.
                “Kamu tahu apa. Sosiologi sudah zonk. Itu aja aku nggak nulis cerpen. Matematika kurang 4 soal udah direbut guru. Itu aja aku nggak nulis cerpen. Minggu ini lagi nggak hore banget. Terakhir aku mau nerbitin novel, aku ditanyain berapa jumlah followersku. Suruh balik kalo sudah tembus 2000, dulu aku masih 200. Sekarang kalo aku balik mungkin standarnya udah naik jadi 4000.” Aku memutar badan, kembali merangkul guling. Menghela napas dan asa. “Toh, mereka pembaca cerpen cerpenku nggak banyak. Paling berapa, nggak ada 20. Aku susah publikasi James. Aku nggak ada modal. ” Semakin badmood hariku setelah mengucap kenyataan. “Apalah bedanya diriku dengan penulis penulis amatir di luar sana. Aku sama levelnya dengan mereka secara de jure. Sudah minggir sana kucing kecing. Minggu minggu gini ngapain--”
                “INI HARI RABU GEBLEK”

Indra.

No comments:

Post a Comment