Saturday, November 22, 2014

Hanyai Nilai Rapot


 
            Jauh di pojok kelas sana, aku, Indra, menyumpah serapah dalam hati. Membatin luapan Rahwana jiwa dan pisuhan tak beretika. Tanganku mengepal keras pensil hingga urat uratku methetet keluar dari seluruh sudut tubuh. Pensil patah tak kuasa menahan jiwaku yang tak tenang. Hingga akhirnya luber semua keringat dingin dari seluruh pori pori badan. Kaki lembabku membuat seluruh ruangan ujian berbau pesing, membuat adik adik kelas histeris dan beberapa pingsan.
            “Yang UTS Bahasa Jawa, waktunya sudah habis.” Terkencing kencinglah diriku ketika guru pengawas sok asik itu dan bel tes mengumumkan pertanda takdirku.
            “BENTAR PAK!” Sontak aku berteriak, peduli apa aku tentang orang orang yang memandang diriku. Aku ukir saja rentetan huruf N yang mereka sebut aksara jawa itu, tanpa tahu menahu aturan yang berlaku. Aku berharap energi mistis tiba tiba mengalir di seluruh saraf tanganku, berharap mukjizat yang mengerjakan seluruh soal essay yang susah bukan buatan ini. Nihil. Tanganku tetap terpaku diam. Beku dalam alphanya pikiran.
            Aku dan guru sok asik tadi berebut lembar jawab seperti sepasang anak TK ribut soal stik playstation. Tetapi apa kuasa, aku masih lemas tak berdaya karena naskah soal Bahasa Jawa yang susah diinterpretasikan diksinya tadi. Aku kalah telak. Lembar jawab essay, biar takdir ku yang mengisimu. Aku terima jika jatahku tidak lulus UTS Bahasa Jawa memang sudah rencana Tuhan.
            Tuhan Maha Tahu.
*******
            Hari Senin itu cuaca sangat tidak hore. Kulihat raut muka Bu Astuti semakin menjadi jadi keriputnya. Merinding seluruh bulu rambut tubuhku ketika kulihat bertumpuk tumpuk lembar putih dibawa sang wali kelas. Hari pembagian rapot datang lebih awal dari yang aku duga.        “Juara 1, Winda.” Tidak penting, gagaslah diriku saja bu “Biasanya yang juara dua siapa?” Bu Astuti memecah hening. Ia meringis, senyumnya blas tidak ada cerminan senyum seorang ibu.
            “Indra, bu.” Salah seorang teman menjawab.
    
            Sepegalnya aku mengayuh sepeda pulang ke rumah, semua terlihat jingga. Tumpukan krikil aku srempet saja, lalu aku jatuh. Mobil parkir di jalur sepeda, juga aku damprat, aku jatuh lagi. Anak SMP naik motor yang tidak punya SIM, aku tubruk, lalu jatuh sekali lagi. Tidak usah lagi gagas aku yang sok pintar ini. Tubruk, lindas, srempet saja lelaki yang sok cinta Indonesia ini. Naik sepeda onthel agar dibilang cinta bumi Indonesia, namun nilai Bahasa Indonesia tidak lulus! Naik sepeda onthel agar dibilang warga negara yang manut unggah ungguh lalu lintas, namun nilai Bahasa Jawa tidak ada 80! Lamis! Pemuda penuh omong kosong!
Aku adalah pemuda yang tidak bisa mengemban sumpah para pemuda. Aku adalah satu dari yang mereka sebut ‘pagar makan tanaman’. Aku 16 tahun mampir hidup di tanah yang katanya kita cintai ini, tanah gendut dan subur Indonesia, masih tidak pecus berbahasa kesatuan, Bahasa Indonesia. Aku adalah sebab Indonesia tidak maju maju. Aku berbicara Bahasa Inggris seperti bule dicekoki sambal lalu ditampar sandal, namun nilai UTS Bahasa Indonesia 77 pun tidak tembus! Aku berbicara Bahasa Mandarin seperti kakek buyutku yang rasanya baru kemarin dislundupkan ke Surabaya dari Singapura, namun Bahasa Krama Bahasa Jawa hanya tahu nggih dan mboten! Katanya cinta Indonesia, bicara pun tak lancar! Ironis!
Setibanya senja, aku merebah di kasur, menangisi nasib. Teriak sejadinya.
*******
            “Ada yang, katanya, suka sastra Bahasa Indonesia, nilai nggak nyampe KKM, ada. Yang mak jegagig lulus, juga ada.” Bu Wulan berdalil. Matanya menyipit, hunusan mata tajam membekukan sukma seluruh isi kelas. Khas antagonis cerita cerita klasik. Gerak geriknya tubuhnya seakan berteriak “AKU NGENYEK AWAKMU, NDRA!”
            Faktanya aku sudah malas betul menggubris nilaiku. Aku ngolet. “Hya sudahlah, bu.” Aku nglantur. Kurang ajar benar. “Toh, wong cuma nilai.” Aku cari penyakit.
            Ketika aku menguap tanda tak peduli, aku dibombardir spidol papan tulis. Mataku langsung sontak membiru memar. Saatku mengaduh kesakitan, tangan Bu Wulan menampar keras pipiku. Aku terpental sampai njaba, melayang, lalu jatuh ketatap njobin. Menungging kesakitan.
            “ANDA NANTANG SAYA?” Teriak Bu Wulan. “BAGAIMANA BISA ORANG MEMBELA NEGARANYA JIKALAU BAHASANYA SAJA TIDAK LANCAR?” Kelas pun diam seribu bahasa. Aku membuang muka ke tempat sampah.
Di dalam kelas yang ngeri tak terperi itu, ragaku mak bendunduk dibedil peluru suci jauh dari kayangan. Arwahku terbang melayang menembus atap sekolah. Semakin jauh tinggi aku melayang, rasanya semakin panas kepalaku hingga akhirnya ketika aku mencapai titik paling panas yang bisa aku tahan, aku membuka mata, kepalaku meledak. Seingatku, aku sudah kembali di dalam kelas, kesurupan, berdiri lantang menantang Bu Wulan yang semakin jadi amukanya.
Aku menggebrak meja. “Menurut Bu Wulan, apa nilai saja cukup?” aku menghela napas “Ironis, bu! Mereka yang memiliki nilai Bahasa Indonesia melejit, hanya melejit nilainya secara tertulis! Kapan Indonesia maju kalau pemuda pemudanya hanya mencari nilai rapot?” Aku memicingkan mata “Bahasa Indonesia sekarang hanya menjadi embyeh embyeh ajang cari nilai, bukan menjadi pedoman rasa cinta tanah air!
“Ketika Bu Wulan mulutnya berbusa busa mengajari tetek bengek ini itu, anakmu yang selalu kau banggakan berharap segera kuliah ke luar negeri, bu! Cepat pergi dari tanah yang katanya kita cintai ini! Lalu bangga jika kerja di luar negeri! Bangga jika sudah tidak perlu berbahasa Indonesia lagi!
“Ketika Bu Wulan ambeien stress memikirkan kami yang Bu Wulan cap sebagai bedebah bangsa, anak anak malaikatmu sedang sibuk joget joget Korea dan dicekoki gambar corek Jepang, bu!
“Bahasa hanya sebagian kecil dari bela negara, bu! Nilai rapot tembus 101, tapi mindset sudah dibudak neokolonialisme, ya lamis!
“Lihatlah anak anakmu, bu! Sudah bangga memakai kimono tetapi jarikan saja mbundet! Bengak bengok album album boyband korea, tapi tembang macapat yang jumlahnya hanya 11 saja masih asing! Merasa keren bisa lancar menulis huruf hiragana dan kanji, tetapi aksara jawa yang sudah diajarkan sejak jaman mekak ra enak, blas nggak apal! Bangga, bu?”
Lalu ubun ubun Bu Wulan umup, berasap asap.
Seingatku setelah aku sadarkan diri dari kesurupan, aku sudah duduk, diceramahi di ruang BK. Ternyata Indonesiamu belum maju.
 Nasib.




Indra. Cerita Pojok Kelas. XII SOSIAL 2

2 comments:

  1. Ini cerita nyata? ._. Emang agak ironis sih. Rata-rata temenku juga orientasinya kalo siap kuliah nanti langsung dapet pekerjaan bonafid, daper gaji gede, punya keluarga yang baik. Jarang banget yang kepikiran, "gue harus sekolah tinggi-tinggi biar bisa ngebangun negeri ini." Kalo aku bilang gitu pasti dibilang naif :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakak, ya nggak lah, dear.... Well... ada unsur cerita nyatanya sih. Ane beneran nggak lulus KKM UTS Bahasa Indonesia sama Jawa tapi nilai Mandarin sama Inggris 95. Hampir semua cerpen (prosa?) di sini non fiksi yg dibuat menarik (jatuhnya fiksi juga sih ._.).
      Perkara orientasi lulus kuliah langsung cari kerja yg 'wah' tanpa mikir negara yg selama ini ditinggali... itu kesadaran orang orang sendiri... ketika orang orang nggak mau tahu sama tetek bengek perkara negerinya, kembali ke kalimat "Ternyata Indonesiamu belum maju." :)
      Btw, thx udah mampir di Cerita Pojok Kelas, sis :D

      Delete