Saturday, November 8, 2014

Pada Sebuah Mimpi



                Aku pun tertegun melihat seorang kekasih yang pernah kucintai semasa SMA.
                Aku melepas harmonika dari bibirku. Aku tak bisa menyembunyikan senyum. “Mudik.” Aku mengambil nafas panjang, mencari basa basi. “Kau sendiri dari mana?”
                 “Gereja, Ndra.”
                Senyumku menggetir. Semakin pahit mulut ini setelah dia turun dari motor lalu ikut duduk di bibir sungai. Kesunyian yang nyaman berlangsung sangat panjang.
                Aku memecah kenyamanan semu itu. “Kekasih,” sedikit lama aku memikirkan kata kata “relakah kau berkerudung untukku?”
                Ia hanya melihat matahari yang terpantul di aliran sungai. Matanya berkaca.
                “Maaf, Ndra. Aku sudah dipeluk agamaku. Aku tidak bisa memisahkan pelukanya.” Ia memegangi harmonika kromatik yang rusak penambah kresnya. “Aku kangen suara biolamu.” Ia menaruh harmonika lalu mengusap matanya agar tak lagi aku usapkan – ia sudah tegar sekarang. “Tak usah basa basi. Kadang aku juga bingung, Ndra. Aku masih tidak tahu bagaimana Tuhan membuat guyon semacam ini.”
                “Apakah benar Tuhan pernah membuat candaan keji seperti ini?”
                “Entah. Aku tak ingin berdosa untuk mempertanyakan itu walau sepertinya pertanyaanmu itu akan selalu mengganggu malam malamku selanjutnya.” Ia menggigit bibirnya.
                “Tidak ada yang kebetulan, sayang. Kebetulan adalah kebenaran yang tak terbaca pertandanya.”
                Ia terkekeh lalu mencubit pipiku yang tak berubah sejak dulu. Lalu sepi mengisi lagi.
                Ia kemudian gantian memecah hening. “Apakah kau akan mencintai perempuan lain, Ndra, jika kita selalu terpisahkan seperti ini?”
                Aku tidak bisa langsung melihat matanya. “Aku pembohong. Kau tahu itu. Aku pernah bilang kepada mantan kekasihku waktu SMP dulu untuk tidak mencintai wanita lain selain dirinya. Buktinya aku mencintaimu sekarang. Jadi aku tak tahu.”
                Gigitanya memerahkan bibirnya yang sudah merah. Aku merasa berdosa telah membuat mata itu basah. “Bagaimana jika suatu saat nanti aku bisa halal untuk kau imami?”
                “Untuk bisa aku imami?” aku terkekeh renyah tak menyangka itu keluar dari mulutnya. “Aku juga tidak tahu. Mungkin juga bisa saja aku mencintai lelaki." Angin berhembus membelah pantulan matahari di sungai. “Jika itu benar suatu saat, kita memeluk agama yang sama, terjadi kelak, lelaki atau perempuan yang akan kucintai selanjutnya akan memanggilmu ‘Ibu’. ”

No comments:

Post a Comment