Saturday, October 11, 2014

Soliloquy Lelaki Romantis



                Siang ini hangat. Tak basah seperti Jumat. Matahari terik, tapi hangat. Aku masih berpeluhkan asam garam. Aku menuju sungai lethek jauh di sana, menyuapi Rahwanaku agar tak muntab. Bersama harmonika dan biola. Kekasih kekasihku. Metafora kekasihku. Di sana, aku mak bendunduk dibedil peluru suci jauh dari kayangan. Aku terbang melayang melewati lumut lumut dinding sungai. Menyibak jemuran jemuran sprei rumah warga. Melangkahi layangan yang sedang berseteru. Hingga akhirnya aku kembali ke bibir sungai tadi, melesat loncat dari dasar kali. Sendirian. Telanjang dari lainya. Hanya sendiri, bersama aku, harmonika dan biola. Tak sadar kekasihku yang dulu pernah aku cintai dan mungkin saja sekarang masih, juga telanjang duduk di sampingku. Aku menangis.
                “Sudah?” Aih, suaranya tak pernah bosan kudengar.
                “Apanya?” Jujur aku juga lupa apanya.


                “Cara agarku jadi mencintaimu.”
                Aku langsung terangkat lagi oleh energi misterius dari langit. Menuju langit. Semakin panas kepalaku dibuatnya, semakin tinggi aku terbang hingga akhirnya aku membuka mata, mendapati aku duduk lagi di pinggir sungai, berseragam.
                Aku menapak tilas lagi janji dan tangisku di istana pikiranku. Mencari apanya dari pertanyaan sudah dari linduranku. Ah, dulu aku berjanji untuk melewati romantisnya pemain gitar gondrong aliran musik cadas yang ia sebut estetika abstrak itu. Tapi, baru saja aku mempersembahkan alunan musik Paganini untuk sampah sampah yang bersemayam di bawah lumpur sungai. Apakah aku masih kalah romantis dengan headbang rambut kumal ketombean itu?
                Aku memanas, meniti detik demi detik sampai kepalaku mengepulkan asap di bawah terik yang makin panas hangatnya. Kepalaku meledak hingga akhirnya aku melihat barisan hawa.
                Kulit coklat di dalam kerudung. “Tak perlulah perhatian berlebihan untuk romantis. Humoris adalah romantis yang penuh seni. Dan Imam, aku tak mau ayah anak anakku bejat.”
                Konvensional. Tradisional. Tipikal menantu idaman. Lalu Anin hilang mengepul serambi menyanyi.
                Kini wanita yang modis, gingsulnya adalah anomali, cantik dengan sendirinya. “Kekasih, inginlah diriku untuk disayang waktu diriku jatuh sakit. Kekasih, kekasih juga adalah mereka yang masih anak anak untukku. Bermain game, menghabisi senja bersama sepak bola.”
                Modern. Lalu Mara masuk ke dalam sungai yang tiba tiba airnya jernih, lalu hanyut saat ia menari, mengikuti ritme arus, menuju laut luas. Artistik.
                Wanita Tiong Hoa yang tertutup kerudung. “Dilan, Indra. Dilan. Bacalah Dilanku Tahun 1990. Jadilah Dilan untuk kekasih.”
                Penuh literasi. Dhia tiba tiba tubuhnya menjadi kertas lalu terpotong dengan sendirinya, terbang bersama angin magis.
                Aku terjemberebab kaget. Suasana seperti lebih panas dari tadi. “Gitar, bunga, canda.” Ia menyibak rambutnya yang satu helainya saja bisa memecah akal sehat anak Adam. “Nakal hanya untukku seorang, kekasih.”
                Lalu Lentera menjadi api api ungu. Menjadi kabut lalu hilang, meninggalkan essence lavender.
                Wanita terakhir menunggang sepeda berkeranjang. Ia hanya tersenyum dari sepedanya. Aku langsung mafhum. Lalu Lusiana mengayuh sepedanya menyusuri jalan, namun matahari tiba tiba tutup tirai menjadi langit malam dengan bulan purnama. Dirinya penuh sihir. Tiba tiba alunan roda berubah seiring waktu, mengarah ke bulan purnama. Mengecil lalu hilang dari pandang mata. Seperti dongeng.
                Malam tiba tiba menjadi semakin pekat. Aku ditarik oleh bulan. Kembali telanjang bersama dirinya.
                “Sudah?”
                Aku langsung ambil kuda kuda. Menyekik figure wanita itu. Aku tekak hingga muntah dirinya dengan kenangan kenangan dan kepalanya meletus, mengluarkan kepul kabut hitam. Lalu aku membuang mayatnya ke balik rimbun eceng gondok dan teratai ungu. 
              Seingatku, aku kembali lagi ke tempat paling awal, berseragam, memegang erat bow biola. Aku mengambil posisi tengah biola, lalu bersoliloquy.
                Aku adalah romantis untukmu. Tahukah?
                Lalu di detik malam yang siang itu, aku hilang rasa untuknya. Sekarang hidupku hampa. Tanpa rasa cinta. Tak ada Sarpakenaka di jiwaku. Aku menangis lagi. Sekerasnya. Tak tahu menangisi apa. Sekarang semua semakin hilang. Nasib.
               

No comments:

Post a Comment